Senin, November 24, 2008

Beliau Bilang, Masjid Bukan Istana

Saya makin jatuh cinta sama dosen pembimbing saya yang berisinisal IBS itu ^^

Oke, akhirnya dia kembali juga dari petualangan dan proyeknya di Kongo. Dua minggu dia pergi, saya dan anak-anak kelompok saya beneran nggak ada progress deh. Entah karena malas, nggak bergairah, nggak cocok ama dosen lain, dan seribu satu alasan lain, maka barusan, 25 November 2008 pukul 11 siang, kami asistesi juga dengan beliau. Jangan panggil dia IBS kalau tidak memberi ilmu super banyak dan masukan luar biasa membludak. Seringkali bahkan, hal-hal arsitektural yang tidak termasuk dalam tugas diceritakannya pula. Kalau boleh jujur, pengetahuan saya banyak bertambah karena pak IBS bersedia membaginya. Walau seringkali saya bengong karena tidak mampu 'menangkap' makna super eksplisitnya, tapi sedikit banyak wawasan saya bertambah.

Oke, beliau memulai asistensi kami kali ini dengan menceritakan pengalamannya dua bulan di Kongo. Bagaimana beliau dihadapkan dengan kasus desain yang menurut beliau cukup rumit. Saya yang mendengar ceritanya saja pusing, gimana beliau yang terjun langsung di Kongo, yah? Ah, karena itulah dia lulus S3 dan mengajar S2, kan? TT_TT Lanjut! Jadi, beliau diharuskan 'merapikan' pemukiman orang tambang yang bekerja di Kongo. Menurut beliau, site-nya ancur-ancuran, peletakkan rumah asal saja, yang penting ada. Belum lagi dengan kontur di sana yang tidak jelas lagi kalau dipetakan. Dan beliau berhasil menyelesaikannya dengan membuat gundukan-gundukan serta ramp yang dirancang sebaik mungkin. Pemukiman yang tadinya acak adul disulapnya menjadi komunitas yang tertata, padahal dari peletakkan massa sih, berantakan.

Mendengar cerita beliau saja, saya kagum.
Tambah naksir.
Kalo nggak inget beliau udah punya istri....
-disepak Kiyut ket-

Dan yang paling bikin saya kagum ama dosen gaek kita yang satu ini adalah kalimat-kalimat mutiaranya yang membuat saya cengok. Ini salah satunya : 'Anda membuat konsep seperti ini, di lahan seperti ini, what the heck?'. Ada lagi, 'Orang-orang bule itu bodoh semua'. Yang lain lagi, 'Anda itu malas membaca, sih!'. Ini lagi, 'Kalau mendesain itu jangan sa'det sa'nyet. Belajar itu bertahap dan sabar'. Plus, 'Anda itu jangan menelan gajah, bisa meledak. Anda harus menelan kupingnya dulu, baru hidungnya..'. Dan yang terakhir, yang paling bagus dan masuk akal, 'Berpikir adalah pelita hati.', sumpah ya, ini quote paling waras dari segala macam kata-kata aneh yang sering dia lontarkan. Kata favoritnya adalah " TENSION", dimana setiap desain itu bisa membuat user merasakan hal yang berbeda-beda. Hmm...

Oke, mari kita lanjut ke pembahasan masjid yang saya lakukan dengan Pak IBS tercinta. Giliran saya terakhir, dan saya sudah merasa kalau saya pasti akan dibantai. BENAR SAJA! Sepertinya lebih dari setengah jam beliau menceramahi desain dan cara berpikir saya. Well, dengan naifnya saya ingin membangun mesjid bertema keseimbangan dan menerapkan konsep hierarki dimana saya menerjemahkan secara gamblang hubungan manusia dalam Islam. Saya mengoceh tentang asumsi saya mengenai perilaku pengguna mesjid ini nantinya, ruang-ruang seperti apa, dan suasana yang terbangun. Dan apa yang terjadi?

Terjadilah debat TIDAK seimbang antara dosen S2 yang bertitel S3 dengan mahasiswi malang yang lulus S1 saja belum.

IBS : Keseimbangan itu bukan tema.
Saya : ... *dalam hati : mati deh gw*
IBS : Lagipula, yang namanya mesjid itu, tidak ada itu hierarki
Saya : -angguk2- *dalam hati : makin mati deh gw*
IBS : Keseimbangan dan hierarki itu prinsip. Tidak bisa dijadikan konsep.
Saya : -dari jauh samar2 mendenagar ost-nya Elfen Lied berjudul Lilium. Siap 100% untuk berjibaku- *dalam hati : ah, andai gw ini Diclonius*
IBS : -mulai merhatiin desain saya-
Saya : -pura2 mati ala sigung-

Dan karena sepertinya beliau mengerti apa maksud perancangan saya, dia malah nanya : sejauh apa Anda mengerti Islam? Jeng jengggg..... Kalo boleh jujur, solat subuh aja masih suka bolong~ Akhirnya, setelah saya bicara sekitar lima menit, kali ini giliran beliau mengocehi saya selama setengah jam. Manthab, enam kali lebih lama! Mungkin beliau merasa prihatin dengan saya yang sepertinya tidak tahu mau membawa ke mana desain tugas dua ini, jadi beliau membantu saya menerjemahkan apa itu mesjid dan apa itu arsitektur Islam. Karena saya merasa bego, ya udah, tanpa banyak bertanya, saya dengarkan cerita 1001 malam ala pak IBS ini.

Arsitektur Islam tidak pernah ada di dalam Al-quran maupun Hadist. Namun mengacu dari nilai-nilai Islam yang berkembang di tanah suci, maka arsitektur Islam adalah arsitektur rakyat, yang dikerjakan karena adanya rasa membutuhkan suatu fungsi tertentu. Dalam kasus ini, yaitu masjid, di tanah asalnya berkembang karena rakyat membutuhkan tempat sujud. Konsep mereka adalah membangun sedikit namun selesai, dan secara fraktal akan tumbuh berkembang seiring kemajuan zaman dan meningkatnya kebutuhan. Di sini, yang ditekankan adalah kerja sama dan keterbukaan si masjid terhadap lingkungannya. Karena pada dasarnya rumah ibadah adalah tempat kita bersujud pada Allah SWT, maka hierarki menjadi tidak berarti. Artinya, kalau merancang mesjid dengan prinsip hierarki, sudah pasti salah.

Ting tong, saya salah menentukan konsep.

Lalu, perkembangan Islam sampai ke Indonesia dibawa oleh kaum Gujarat. Nah, pada prakteknya, Islam menyebar melalui India dan beberapa negara di Eropa. Perlu diingat, arsitektur Islam, khususnya arsitektur masjid terbentuk karena pencerapan budaya yang berkembang di sekitarnya. Hal inilah yang membuat arsitektur masjid menjadi beragam di bebagai negara. Namun secara garis besar, mesjid di daerah timur tengah dan negara-negara yang awalnya kerajaan sangat berbeda bentuk fisiknya. Telah disebutkan di atas, negara jazirah Arab memiliki masjid dengan bentuk organik dan terus berkembang tanpa henti. Sementara masjid di negara yang dulunya kerajaan, sebut saja Indonesia yang lebih dahulu dikuasai Hindu dan Budha, lebih terkesan seperti istana. Lihat saja betapa megahnya masjid Istiqlal, Salman, dan berbagai masjid di Indonesia yang memiliki skala megah. Tentu saja pengaruh arsitektur kerajaan di zaman Majapahit, Demak, Singasari, dll itu sangat kuat terhadap arsitektur masjid di negara kita.

Pertanyaannya adalah, untuk daerah Geger Kalong, perlukah dibangun masjid seperti itu?

Jawabannya tentu saja : TIDAK!

Ting tong, tema saya, tidak lolos!

Untuk daerah Geger Kalong yang sarat penghuni dan minimnya tempat sosialisasi, jawaban yang dibutuhkan adalah ruang-ruang sosial. Padatnya permukiman penduduk membuat mereka tidak memiliki taman untuk sekedar menghijaukan daerah mereka. Perlu diingat, daerah Geger Kalong terkenal dengan Daruut Tauhid, yang artinya sudah ada satu masjid besar yang ada di wilayah itu. Ditambah masjid UPI dan satu masjid kecil di dekat site, maka merancang masjid yang megah sangat tidak kontekstual dengan lingkungan sekitar. Berangkat dari keperluan ruang bersama, maka muncullah ide-ide dan konsep dari beliau yang sama sekali tak terpikirkan oleh saya. Beda jauh ya, ilmu dosen bertitel 'doktor' itu.

Masjid adalah tempat sujud. Dari definisi singkat itu saja, jelas bahwa seharusnya masjid itu terbuka bagi siapa saja untuk beribadah. Karena itu, kata 'terbuka' menjadi kata kunci pertama dalam mencari tema kali ini. Next, kebutuhan akan 'ruang publik' dan sesuatu yang 'hijau'. Hmm, mulai terbayang. Lalu, dilanjutkan dengan 'konsep bangunan bertumbuh dan berkembang', yang artinya si masjid bukanlah massa megah yang berdiri begitu saja, namun bisa diperluas sesuai perkembangan jamaat. Wah, makin menarik. Lalu setelah beliau asyik mencorat-coret di gambarnya Pamela -poor you, Pamz-, akhirnya ditemukanlah satu tema berjudul, 'Masjid Taman', di mana terjadi interaksi manusia dan alam, sekaligus bisa dijadikan tempat beribadah. Bangunan masjid dipecah menjadi beberapa bagian dan menyatu dengan pepohonan. Ditambah permainan elemen lansekap seperti kolam, vegetasi dan tangga sepertinya membuat site ini jadi menarik. Whoaaa... Ini sih konsep yang menarik banget! XD

Berubah tema berarti berubah semua deh desain saya. Artinya, saya harus mulai dari nol lagi sementara Jum'at ini ada preview terakhir sebelum mulai penyajian. Sebodo amat, walau oknum AAA tidak memperbolehkan adanya asistensi lagi minggu depan, saya akan tetap minta saran dari pak IBS! Mana mungkin suatu desain kelar hanya dengan satu kali asistesi, bapaaakkkk??? ><" Namun, saya akan berusaha untuk itu, hehe. Berjuang gHee!!! XD

P.S. : ternyata, Pak IBS pernah mengajar mata kuliah 'Arsitektur Islam' pas tahun 1982. Ajib, orang tua saya aja masih pacaran... Pantas saja beliau mengetahui sangat banyak tentang masjid dan perkembangannya. Terima kasih banyak, Pak IBS! Ilmu Anda sangat memberikan kami pencerahan. Dan kenapa sih, PENCERAHAN SELALU DATANG BELAKANGAN!!!!

Sabtu, November 22, 2008

... dan akhirnya

Dan akhirnya, setelah dia melindungi Iruka..
Dan akhirnya, setelah dia mencoba sekuat tenaga menghalau Pein..
Dan akhirnya, setelah paku laknat itu menembus tubuhnya..
Dan akhirnya, setelah tubuhnya tak bergerak..

Dan kalimat itu terucap..

'Obito, Rin, Master.. I'll be there soon..'

Dan akhirnya, Kakashi pun memejamkan mata untuk selama-lamanya.

ANJ*** APA-APAAN TUH! SETELAH SOK JAGO DATENG, NGELINDUNGIN IRUKA, LO MALAH NYEBUT2 NAMA OBITO SEBELUM MATI! HAH? HAH? KAKASHIIII....!!!!

Begini cuplikan mangascan Naruto 425 yang berjudul 'Kakashi Hatake'...









Begitulah...
Saya nggak tau lagi mesti ngomong apa. Satu hal yang paling saya takutkan beneran terjadi. Saya nggak nyangka, fanfiction saya yang berjudul I Am Here benar-benar jadi kenyataan. Saya curiga, jangan-jangan Masashi ngebaca fanfict saya, lagi! -direbus pake cukapara- Harus saya akui, kematian Kakashi emang nggak keren. Bayangin, dia mati ketojos paku aja gitu! Kesannya dia kena tetanus gara-gara pakunya karatan. Yah, walau ternyata matinya kehabisan chakra dan kepencet batu sih..

Kematian Kakashi Hatake bisa dibilang indah. Sebelum dia benar-benar pergi, dia sempat minta maaf pada Obito. Dia sempat mengenang rookie 12, dan sempat berkata-kata yang amat sangat menyentuh. Dibanding ama kematian Jiraiya yang kelelep ilang dan Itachi yang nunjuk jidat Sasuke, kematian Kakashi sangat mengharukan. Sekalipun saya udah siap dengan kematian dia, tetep aja pas baca manganya saia nangis juga. Lepas dari kuat enggaknya Kakashi, dia adalah copy nin yang beken senegara Hi. Dia seorang jenius yang terlahir sebagai putra tunggal Sakumo Hatake, Konoha no Shiroi Kiba.

Intinya, Kakashi sebagai salah satu tokoh penting terhadap perkembangan Naruto, kematiannya sudah pasti bakal bikin manga Naruto 'never be the same again'. Nggak ada lagi pembaca Icha-Icha Tactics, emang sih authornya juga udah mampus duluan. Nggak ada lagi tokoh ganteng yang keliaran di gedung Hokage. Nggak ada lagi Kakashi-sensei yang cerah ceria dan telatan. Nggak ada lagi yang menemani malam-malam Iruka -lho?- Pokoknya, ucapkan selamat tinggal pada jounin pemimbing tim tujuh kita tercinta. Semoga selalu tenang dalam pelukan Obito di alam sana :')

良い夜、 Kakashiの...

すてきな夢を見る

Selasa, November 18, 2008

Firasat dan Irama Bang Toyib

Ya, sebuah lagu dari Marcell yang kini sudah menemukan pasangan hidup barunya. Setelah perceraiannya dengan Dewi Lestari, agaknya pelantun lagu ballad ini makin bahagia saja senyumnya. Setidaknya, begitulah yang saya baca di tabloid entertainment pagi ini. Tentu saja bukanlah si pemilik rambut keriting nan eksotis itu yang akan saya bahas di sini, namun satu paragraf saja dari lagu yang menjadi judul tulisan saya kali ini.
-
Tentulah semua orang pernah mendengar lagu lawas tersebut. Tidak hafal semua kata-katanya, setidaknya pasti pernah mendengar reff lagu yang mendayu-dayu ini.
-
Cepat pulang, cepat kembali
Jangan pergi lagi~
Firasatku ingin kau 'tuk...
-
Sudah sekitar satu minggu sejak kepergian pria yang penting bagi diri saya ini. Yah, mungkin tidak bagi saya, tapi beberapa teman seperjuangan saya pun mengakui kehilangan dia semenjak keputusan itu membawanya pergi jauh. Jauh, sangat jauh sehingga nyaris tak terjangkau. Dia kini sedang berada di sana, belahan benua lain yang terpisah oleh beberapa samudra. Saya tidak mengerti dengan dirinya yang memutuskan untuk pergi begitu saja, entah kenapa rasanya keputusan yang diambilnya begitu mendadak dan menyakitkan.
-
Dia meninggalkan saya dan teman-teman saya dalam ketidakpastian. Tidakkah dia tahu kalau saya hancur tanpanya? Tidakkah dia sadar kalau kepergiaannya mengombang-ambingkan saya dalam kegalauan amat sangat? Beberapa hari yang lalu saya hanya bisa meratap kesal, berharap dia akan cepat pulang dan berada di samping saya dan teman-teman saya lagi. Walau terkadang dia menyebalkan karena maunya yang sulit ditebak, walau dia selalu seenaknya dengan waktu, walau dia hanya bisa menyisakan sedikit waktunya, namun jujur saja... Saat dia pergi adalah saat paling membuat saya dan teman-teman saya kehilangan pegangan.
-
Benar kata orang, kita baru akan merasa membutuhkan seseorang ketika seseorang itu sudah tidak ada.
-
Cepat pulang, cepat kembali
Jangan pergi lagi~
-
Kapan dia akan pulang?
Kapan dia akan berada bersama kami lagi?
kapan dia akan mengobati kegundahan kami?
-
Pak Indraaa... Cepetan kembali dooonggg!!!!
-
Bapak tega melihat anak-anak bimbingan AR4000 bapak menderita seperti ini? Kami beneran pusing harus mengejar dosen lain yang juga sibuk dengan anak-anak bimbingan mereka. Mana kami dapat bonus dampratan dari oknum AAA, pula~
-
Kami sangat merindukan (asistensi) Bapak! Kami juga menunggu (oleh-oleh) Bapak! Kami beneran kayak anak ayam piyo-piyo yang sibuk karena induknya hilang. Kami tidak tahu mau berbuat apa. Bapak bilang, Bapak belum pasti akan pergi ke Kongo, eh, Bapak beneran pergi tanpa dadah-dadahan lagi. Tanpa salam, tanpa pesan dan kesan, tiba-tiba angin pun membawa bayangan Bapak menjauh. Bersama itu juga, kertas asistensi kami rasanya ikut pergi bersama langkah Bapak yang tak lagi tergapai. Lalu, bagaimana kami harus menghadapi preview III, Bapak? Preview terakhir sebelum kami akan berkutat dengan autocad? Bapak kan tahu, saya ini baru bisa line ama rec doang!!!!!!
-
Bapak, pulanglah...
Kami tidak tahan lagi dengan kesendirian ini. Kami selalu ditakut-takuti oknum AAA dengan berbagai bentuk intimidasi dan ancamannya. Dia sangat menakutkan, Pak. Dan tanpamu, kami tak ada tempat berlindung. Kumohon, Bapak... Pulanglah... Anakmu menununggumu...
-
Pak Indra, Pak Indra~
Kenapa, nggak pulang-pulang?
Anakmu, anakmu, rindu ingin bertemu~
Pak Indra, Pak Indra~
Kenapa nggak pulang-pulang?
Anakmu, anakmu, panggil-panggil namamu~

Senin, November 17, 2008

Dua Oknum yang Berjasa

Diawali dengan sebuah SMS berisi, 'Ghee, besok gw mau survey ke lapas Tangerang. Kalo mau ikut, jam 5 pagi gw tunggu di stasiun Bandung', yang notabene dari senior saya, diri ini pun berakhir di Lembaga Permasyarakatan Anak Pria Tangerang. Oke, bukan lapasnya yang akan saya bahas di tulisan ini, melainkan proses bagaimana saya akhirnya bisa mencapai bangunan tua tersebut. Dan beginilah kisahnya.

Terima kasih terucap kepada oknum pertama, sebut saja Kiyut Ket, yang sudah dengan baik hatinya menelpon saya pukul setengah lima subuh. Kucek mata sekali, ngulet sekali, plus kejutan kram pinggang di pagi hari, akhirnya saya bangun juga. Karena sudah tidak memungkinkan untuk mandi, saya hanya membasuh muka dan gosok gigi. Dengan persiapan sangat pas-pasan yaitu hape-dompet-jaket-kamera, bertolaklah saya ke pintu gerbang. Sempat berdadah-dadah dramatis pada ibu kost saya dengan latar mentari pagi yang sedikit mengintip. Benar saja, Kiyut Ket sudah menunggu saya di depan pintu.

Lalu kami pun berjalan santai menuju kostan salah seorang teman yang dengan baik hatinya akan mengantar saya dengan Katana birunya. Oknum kedua, bernama Penyihir Terbaik, keluar dengan kaos dalam dan celana panjang plus sendal. Setelah berhaha-hihi di depan pintu kost Penyihir Terbaik, kami bertiga memutuskan untuk nyabu dulu. Langsung menyebrang dan sarapan bubur di kedai Kameumeut, Cisitu Lama. Oke, singkat cerita akhirnya kami siap berangkat dan Katana biru pun difungsikan sebagaimana mestinya.

Awalnya, saya cukup yakin kalau si Penyihir Terbaik ini tidak akan membahayakan jiwa saya yang duduk di samping sang supir. Ya, dia yang menyetir dan saya ada di jok depan dengan seat belt super kencang. Diawali dengan keluar dari parkiran kostan, saya mulai dag-dig-dug dengan cara menyetir sang Penyihir. Lalu Kiyut Ket pun memberikan wejangan dan beberapa nasihat spiritual pada Penyihir. Saya hanya bisa berdoa dalam hati, semoga saja Tuhan masih berbaik hati kepada saya.

Katana biru melaju. Belok, belok, lurus, gas, rem, gigi tiga, rem, dan saya merasa Tuhan nggak sayang-sayang amat sama saya. Jantung ini dibuat berolahraga karena polah sang supir yang sedikit mengkhawatirkan. Kiyut Ket masih memberikan beberapa mantra yang kira-kira, 'pelan-pelan..awas kanan..ambil kiri..gas..rem..', begitu berulang-ulang sampai terasa mendoktrinasi. Rupanya aksi Taman Sari Drift ini tak berakhir di situ saja. sampai di U-turn bawah jembatan layang Pasupati, si Penyihir ini ebrbelok tajam tanpa menyentuh rem sama sekali. Di sini, saya sudah menyebutkan 'Maha Suci Allah' berulang-ulang dalam hati.

Memasuki daerah-daerah dengan tikungan lumayan, dengan penyesuaian diri di atas rata-rata, saya mulai rileks. Kiyut Ket pun tak terlalu sering mengucap mantra, dan sang Penyihir agaknya mulai menikmati aktivitas berbahaya ini. Daerah stasiun, dimana tikungan 90 derajat, dan lagi-lagi sang Penyihir tidak menginjak pedal rem. Katana biru berbelok tajam, dan kami yang tadinya berada di jalur kiri langsung berada di jalur kanan. Melihat keekstriman tingkat tinggi ini, terpaksa Kiyut Ket kembali mengulang mantra ampuh tadi, 'ambil kiri..rem..awas belakang..buset, lo sempet benerin spion?', sementara saya mengubah 'Maha Suci Allah' menjadi 'Allah Maha Besar'. Semuanya terasa menjadi overdramatic bersama kedua oknum ini.

Akhirnya, dengan tubuh masih utuh, kami pun sampai di stasiun kereta api Bandung. Membeli tiket, memasuki gerbong Argo Bromo, dan duduk manis di kereta, saya dan senior saya bertolak juga ke Jakarta. Sampai sinilah sang Penyihir Terbaik dan Kiyut Ket mengantar kepergian saya. Setelah berdadah-dadah kembali, mereka pun menghilang sementara kereta yang saya tumpangi mulai melaju perlahan. Kelibat-kelibat bayangan akan Lembaga Permasyarakatan membuat saya banyak bertanya kepada senior saya. Yang pada akhirnya, tempat itu membuat saya rindu ingin kembali.

Akhir kata, saya ingin berterima kasih kepada Kiyut Ket dan Penyihir Terbaik yang sudah berbaik hati mengantarkan saya dan membuat jantung saya makin sehat.

Rabu, November 12, 2008

Begini Salah Begitu Benar

Ehem...

Bukan postingan yang direncanakan mengingat saya ini baru kelar mengerjakan jobdesk tim kreatif buat Dies Natalis IMA-G yang ke-57. Jadi, niatan saya main ke kosan pacar adalah untuk mencetak foto-foto yang untuk analisis lahan -hari gini baru analisis lahan, kamana aja lo, gHee?-. Nah, niatan itu melenceng setelah saia malah dengan asyiknya mengunduh lagu Dewi-Dewi yang bertajuk 'Begini Salah Begitu Benar'. Awalnya memang tidak ada yang spesial dengan lagu ini kecuali video klip-nya yang agak 'mengundang' pikiran yang iya-iya itu.

What a lucky brat, Mr. Tio Pakusadewo.. :D

Well, bukan adegan super romantis di kolam renang ataupun siraman red wine yang seksi itu yang mau saya bicarakan, melainkan makna di balik lirik lagu ini. Video klipnya saja diawali dengan tiga wanita yang sedang bersedih di depan makam satu pria-lebih dari cukup kalau lagu ini tentang cinta segiempat. Yap, percintaan rumit dimana yang terlibat adalah satu pria dan tiga wanita. Biar tidak ada missunderstanding di sini, mari kita tilik dulu lirik lagu berikut ini.

BEGINI SALAH BEGITU BENAR

aku bahagia dengar kata cintamu
tapi aku sedih menerima kenyataan
bahwa tak hanya diriku yang menjadi milikmu
bahwa tak hanya diriku yang menemani tidurmu
bahwa tak hanya diriku ada di hatimu selamanya

ini begitu salah tapi ini juga
begitu benar untuk aku yang dilanda
cintamu yang terus membakar aku
cintamu yang akhirnya membunuhku

aku bahagia dengar kata cintamu
tapi aku sedih menerima kenyataan
bahwa tak hanya diriku yang menjadi milikmu
bahwa tak hanya diriku yang menemani tidurmu
bahwa tak hanya diriku yang slalu ada di hatimu selamanya

bahwa tak hanya diriku yang menangis
saat kau terpisah denganku
bahwa tak hanya diriku yang terbunuh
saat kau ada bersamanya

ini begitu salah tapi ini juga
begitu benar untuk aku yang dilanda
cintamu yang terus membakar aku
cintamu yang akhirnya membunuhku

ini begitu salah tapi ini juga
begitu benar untuk aku yang dilanda
cintamu yang terus membakar aku
cintamu yang akhirnya membunuhku

ini begitu salah tapi ini juga
begitu benar untuk aku yang dilanda
cintamu yang terus membakar aku
cintamu yang akhirnya membunuhku


Nah, begitulah lirik dari lagu yang saya sukai ini.

Heran, saya ini paling benci dengan cinta segitiga. Mau bentuknya perselingkuhan, poligami, sekalipun para pelaku cinta segitiga itu rela dengan keadaan tersebut, saya tetap tidak rela. Maksudnya, saya tak mau terlibat lagi dengan cinta dimana ada orang ketiga, karena cinta macam ini tidak hanya melukai si orang ketiga. Pada satu titik, ketiga pihak akan sama-sama sakit. Ketiga pihak akan merasa bersalah, atau apapun namanya, pokoknya... -bingung bagaimana lagi mendeskripsikan sakitnya berada dalam keadaan cinta segitiga-

Kalau ada satu pria dua wanita, biasanya wanita kedua akan dicap cewek penggoda. Atau cowoknya dicap mata keranjang. Mungkin sebenarnya tidak sesepele itu. Bisa saja cewek pertama yang 'bermasalah', seperti sudah bosan sama cowoknya, atau overprotektif sama cowoknya. Bisa saja cewek kedua ini bukannya sekedar selingkuhan, tapi 'a right girl on the wrong time', atau 'a wrong girl on the right time'. Karena si cewek kedua ini yang ada di saat si cowok membutuhkan seseorang, bukan cewek pertamanya. Katakanlah, cinta datang karena biasa, atau sering dibilang 'pelarian'. Kalau sudah begini, si cewek pertama akan sakit hati karena dikhianati. Si cewek kedua akan sakit hati karena menyangka dirinya pelarian. Dan si cowok, dia akan sakit karena kehilangan keduanya. Setidaknya, dia nggak akan pernah bisa mengembalikan hubungan ke taraf 'baik-baik saja'.

Kalau sudah begini, siapa yang salah, siapa yang benar?

Lain cerita kalau memang dasarnya si cowok itu mata keranjang, ya. Beda lagi ceritanya. Tapi terkadang, ada keadaan dimana si cowok ini tidak bisa melepas keduanya. Namun di satu titik, dia dituntut untuk memilih salah satu saja. Banyak yang bisa mempertahankan salah satu, beberapa yang kehilangan keduanya, dan sedikit yang mampu mendapatkan keduanya. Nah, begini ini yang berlanjut ke arah poligami. Namun bicara soal cinta, tak akan pernah ada manusia yang bisa adil dalam hal cinta. Tidak ada satupun, sekalipun Rasulullah, pastilah ada satu orang saja yang memiliki tempat paling spesial. Nah, kan? Cinta segitiga selalu menuntut satu korban untuk sakit hati. Tiga orang akan sakit, namun ada satu yang paling sakit.

Kalau dua wanita dan satu pria, satu wanita akan merasa terbuang. Satu wanita dua pria, ini tidak mungkin dipertahankan mengingat harga diri pria yang tinggi, sebenarnya. Dan poliandri haram hukumnya, karena itu kasus seperti ini biasanya berakhir dengan dua cara saja. Lepaskan keduanya, atau pilihlah salah satu. Yang bukan pilihan, sudah tentu dia yang memendam luka paling dalam. Karena itu, cinta segitiga memiliki daya tarik tersendiri. Mulai dari coba-coba, taruhan, pamer, sampai benar-benar jatuh cinta pada yang kedua. Kalau sudah begini, menurut kalian, sebagai cewek pertama, apa yang akan kalian lakukan?

Cinta segitiga merupakan kesalahan.

Namun bisa juga begitu benar, ketika cinta mengalahkan logika kita. Mungkin sebagian besar akan menganggap hal ini omong kosong. Sebagian besar orang di luar sana akan mengatakan dengan mudah, 'tinggalkan saja si X, toh dia sudah punya pacar', atau, 'plis deh! lo mau pacar lo direbut sama si cewek centil jurusan Y itu?'. Terkadang, kata perpisahan alias putus mudah sekali dilontarkan sebagai jalan keluar. Namun kembali ke pasal 'cinta mengalahkan logika', maka biasanya wanita rela berbagi cinta mereka dengan wanita lain dengan alasan, 'saya bahagia melihat pria saya bahagia. Bila kebahagiaan itu bisa didapatkan dari wanita lain, saya rela. Namun saya masih ingin berada di samping dia.', dan berakhir dengan poligami.

Lah, nyasar ke poligami. Kejauhan.. Niatnya sih nggak mau ngomongin ini. Tapi yah, begitulah mungkin cikal bakal orang-orang memutuskan hal itu. Mungkin juga karena jumlah wanita yang makin hari makin banyak saja? Entahlah, namun di sekitar saya saja, peristiwa macam ini lumayan banyak. Sekarang, saya tidak bisa lagi men-judge seenak perut soal cinta segitiga. Karena ada keadaan dimana seseorang tak mampu memilih. Ada kondisi-kondisi tertentu dimana seseorang harus rela melihat orang yang dicintainya dibahagiakan oleh orang lain. -kok jadi mellow gini yah?- Saya tidak pernah berharap hal seperti ini terjadi pada saya yang sudah cukup memakan asam garam di dunia cinta segitiga. Sakit. Sakit rasanya melihat orang yang saya suka tertawa dengan perempuan lain. Kadang bertanya, kenapa bukan saya yang menjadi alasannya tersenyum?

Well, itu masa lalu :)

Rasanya sudah lama sekali. Tapi kalau bukan karena kejadian seperti itu, saya rasa saya tak akan sebegini dalam melihat kasus percintaan. Banyak orang yang tidak bisa obyektif dalam menyikapi cinta segitiga. Kenapa orang ketiga selalu disalahkan. Kenapa selalu menyalahkan kondisi dan waktu, padahal yang lebih patut disalahkan adalah komunikasi yang kurang dan tak ada usaha untuk memperbanyaknya? Terkadang, seribu 'kenapa' tak bisa cukup dalam menjawab permasalahan hati. Seringkali, pandangan sempit kita berakhir dengan menyalahkan satu pihak saja. Percayalah, cinta segitiga terjadi karena kesalahan dari ketiga pelakonnya.

Dalam satu kalimat, cinta segitiga adalah hal yang salah namun hal yang benar. Dia bisa menjadi hitam dan putih dalam satu waktu. Mampu berperan baik dan buruk sekaligus. Yah, semakin kesini, batasan moral semakin blur. Manusia mempunyai hak tak terbatas dalam melakukan apapun. Kembali ke permasalahan perempuan kedua, dimana dia orang salah di waktu yang benar atau orang benar di waktu yang salah. Dalam suatu kondisi perempuan ini bisa menjadi malaikat. Di lain keadaan, perempuan ini bisa menjadi bencana. Namun, memangnya ada cinta segitiga yang berakhir dengan indah? Sepanjang saya hidup, belum pernah saya melihat sesuatu yang berwal buruk berakhir dengan baik. Kembali saja ke diri masing-masing, dan bertanya dengan hati.

Pertanyaan soal cinta segitiga tak sebatas benar atau salah, namun lebih dari itu.

Karena orang ketiga juga bisa menjadi, 'orang yang benar di waktu yang benar'.
Melangkah Bersama Pejuang Kertas © 2008 | Coded by Randomness | Illustration by Wai | Design by betterinpink!